Selasa, 23 April 2013

Ibu

Oleh : Nina Paulina

Pelita di malam hari
Mentari di pagi hari
dan surya di siang hari
Jadikan sumber inspirasi

Putih bersih hatimu
Halus lembut bahasamu
Rangkaian kata menyentuh kalbu
Begitulah sosok Ibu…

di waktu kecil
di lelap tidurmu
mungkin dosaku,yang telah membangunkanmu
rintikan tangisku
dentingan jam dinding,membuatmu terbangun
melenyapkan tangis
dengan rasa kasihmu

Ibu..
Dalam senyummu ,kau sembunyikan letihmu
Dalam tawamu,kau sembunyikan rasa penatmu
Gejolak cerita tentang dirimu
kau berikan cahaya dalam hidupku
Hanya untuk membahagiakannku

Ibu..
ku tahu,
pengorbanan,jasa-jasamu tak mungkin bisa terbalas
ku tahu,kepingan emas tak akan mungkin membayar semuanya
segulungan dan tumpukan uang tak kan mampu melontarkan terima kasih ku
kau ajarkan rasa pengabdian ini.
kau ajarkan rasa mengabdi
kau ajarrkan rasa terima kasih
dan kini sukses di dalam keikhlasan
melukis sukses diatas senyumanlh yang ku persembahkan..
ibu,,,
terima kasih
ku menyanyangimu..


Majulah terus siswa SMANSA

Oleh : Elsa Apriyani
Pernahkah kau sejenak berpikir, teman ...
Bahwa untuk apa kita bersekolah?
Siapa yang membiayai kita sekolah ?
Siapa yang membimbing kita selama ini?
Coba renungkan... Coba bayangkan ...
Dan ini jawabannya ..
Hanya kepadamu harapan disandangkan
Hanya kepadamu cita- cita dipertaruhkan
Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagimu
Bangkitlah melawan arus yang terus mendera
Kuasailah dirimu dengan sikap optimis
Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya
Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan
Ingat, Engkau adalah harapan, engkau adalah masa depan
Masa depan ada di tanganmu
Harapan terpendam ada di pundakmu
Nasib bangsa engkau yang menentukan
Ingat... !
Jerih payah orangtuamu
Keringat yang membanjiri orangtuamu
Untuk menyekolahkan mu
Jangan kau jadikan angin lalu
Hadiahkan mereka dengan sebuah keberhasilan
Buat mereka menangis karena kesuksesan
Bukan karena sebuah kegagalan
Jangan kau jadikan jimat
Buku dan alat tulis mu yang kau bawa pulang pergi setiap hari
Gunakan lah mereka untuk kau menuntut ilmu
Jangan menyerah, kawan..
Jadikan ini sebuah tantangan
Walau soal demi soal sulit terasa
Walau tugas demi tugas menguras pikiran dan tenaga
Kita harus tetap belajar dan berdo’a
Kita pasti bisa menjadi juara!
Semangat teman,, gapai cita-cita yang ada di otak mu
Mulailah semangat baru di Hari Pendidikan nasional ini
Hari ini dan seterusnya adalah masa depan mu
Sukses adalah kita
Majulah terus siswa SMANSA ... !

A Love to Mom

Karya:Cristia
She came to give me a birth
She smiled to a crying baby
She gave her hand to wipe it dry,
Releasing the uncomfortable feeling of a small baby

She’s the biggest part of my happiness, why? and why?
She’s just like a sun that always be waited by each eye,
Just like the rain that makes me calm in my worries,
Just like a candle in the dark night
Just like a big wall that protects me,
She’s my everything that never can be changed

Love,
It’s different when I love mom,
Although they said that there’re so many love outside,
But I can’t find the bigger love than my love to Mom

Mom, don’t you know?
Under the pale moonlight, the rising star
I imagine how will my life be without you?
How can I breathe?
How can I get a little smile without you?
Who is the reason of my happiness?

In the silent night I pray,
I want to hear you say that you’ll never go before me,
Because there’d never been a love in this world when you are gone

Dimana Sekolahku

Karya: Amalia Rahmatianti
Langkah kaki kecil itu merapuh
Terus mencari apa yang ia ingini
Tapak demi tapak kakinya menyentuh tanah
Tanpa sedikitpun ragu, ia terus mencari
Serpihan demi serpihan, ia gali satu per satu
Tapi yang ditemukan hanyalah seonggok lonceng tua
Yang mengingatkanya pada panggilan belajar saat dulu
Tong... tong... tong...
Anak kecil itu membunyikan lonceng karat itu
Kemudian sunyi,
Tak ada lagi anak-anak yang berlarian menuju kelas seperti dulu
Ditatapnya nanar lonceng itu
Berharap sang lonceng bisa bercerita padanya
Tentang mengapa tak ada lagi anak-anak yang berlarian
Diedarkannya pandangan mata ke sekelilingnya
Bak lautan sampah, puing-puing bangunan itu kini berserakan dimana-mana
Seolah menyesaki hati si anak kecil
“Dimana sekolahku?
Dimana tempatku belajar dulu”, tanya sang anak pada hati kecilnya
Tapi sayangnya tak ada jawaban
Hanya terdengar angin yang menerbangkan kertas-kertas putih
Gedung kokoh yang dulu tempatnya menimba ilmu
Kini berubah menjadi lautan serpihan masa lalu
Semuanya telah hancur, menggunung ibarat tumpukan sampah
Kembali sang anak melihat ke sampingnya, ditatapnya dengan miris
Diejanya satu per satu kata pada sebuah papan putih di sana
Papan putih yang bertuliskan “Proyek Timah Negara”

Kartini

Karya :Nina Paulina
Tatapan hangat...
Sorot pandanganmu
Lekuk bibir,satukan nada...
Rautmu pelopor emansipasi kekuatan wanita berkreasi

Ibu Kartini....
Sosokmu anugrahkan motivasi
Gulir tulisanmu sembahyangkan sensasi
Terguncang ambisi,tertuang emosi
Muliamu tak terdefinisi
Ikatan surya yang gantikan mentari
Kenanganmu selalu di hati
Tegamu....
Meluapkan rotasi,menyambar jiwa untuk selalu berbudi

Kini....
Hangatmu....
Dengarkan tawa
Kita bisa karena setara
Bersama melangkah ,luapkan aksi jiwa dalam tabir lukisan angkasa.
Hormat kami pada petuah
Terima kasih wahai pelopor emansipasi
Walau hidup tak pernah bersuah
Mahakarya tak kan pernah mati

Jangan Lupakan Ibu Kartini

Karya: Cristika

Kudengar tentang Ibu Kartini
Pembawa lentera dalam gulita
Dia berjuang
Dengan kelapangan hati dan pikirannya
Mendobrak angkuhnya hegemoni tak berarti
Dia memapah kaumnya
Terbebas dari pasungan bisu
Keluar dari penjajahan diskriminasi
Menuntun dalam tapak titian masa depan
Yang lebih bermakna

Dia ksatria dalam anggunnya
Tak pernah menyerah meski lelah berdarah
Dia perkasa dalam diamnya
Berteriak dalam surat tangannya
Arungi samudra dan benua
Berjuang demi kaumnya
Habis gelap terbitlah terang

Maka pantaskah kita menyerah, saudara ?
Dalam terang ia perjuangkan bagi kita
Pantaskah kita hanya berpangku tangan, terdiam ?
Sementara Ibu Kartini berlari, berteriak pada dunia
Saudara, jangan lupakan Ibu Kartini

Mengapa Tidak ?

Diusiaku yang sudah menginjak 18 tahun, ayahku masih saja melarangku membantu pekerjaannya di kebun apel. Aku hanya disuruh duduk manis di pondok kecil sambil melihat ayah dan pegawai-pegawainya bekerja. Ayahku selalu berkata, “Kamu seorang wanita muda, kau lebih cocok bekerja di dapur. Tenaga wanita tidak dibutuhkan di bidang perkebunan. Apa kau mengerti ?”. Ribuan kali ku dengar ucapan itu. Dan setiap kali mendengarnya, aku selalu berpikir, “Mengapa tidak boleh ? Padahal derajat manusia itu sama. Kenapa wanita tidak boleh bekerja di perkebunan ? Bukankah wanita juga punya hak dalam memilih apa yang mereka minati ?”. Disaat aku mengatakan tentang yang ku pikirkan, ayah selalu menghela nafas dan pergi meninggalkan ku. Apa yang salah ? Bukankah aku benar ?