Rabu, 27 November 2013

Perjalananku

Apa yang bisa ku lakukan saat ku rasa harapan yang ku impikan tak kunjung ku temukan?? Aku ingin sekali melakukan suatu hal yang bisa membuat kau bangga akan diriku. Tapi apa?? Aku tak mampu menemukannya. Harapan itu masih terus bersembunyi diantara jutaan bintang. Mengajak ku untuk menelusuri satu per satu impian yang pantas untuk ku wujudkan. Ku rasa aku terlalu cepat berputus asa saat aku memikirkan jalan menuju impian ku cukup sulit. Baru memikirkannya saja ku rasa pikiran ku sudah terseok seok.
Memang kondisi fisik ku tak mendukung untuk melakukan suatu hal. 15 tahun yang lalu aku dillahirkan tanpa kedua kaki. Keadaan ku sempat membuat sedih kedua orang tua ku, tapi tak lantas memutuskan kasih sayang mereka. Siang malam mereka memberikan kasih sayang itu, tak mengenal kata putus. Kini usia ku makin bertambah, menyadarkan ku untuk segera membahagiakan kedua orang tua ku. Aku terjebak diantara keadaan , memaksa ku untuk berpikir ulang akan kebahagiaan itu. Tiba tiba ide itu menyapa ku saat aku termenung menatap bintang malam ini. Percikan sinarnya mampu membuka kunci hilang yang ku cari selama ini. Ya, aku akan melakukannya. Aku percaya aku bisa dan mampu.
Perlahan tapi pasti aku mencoba berbagai keterampilan yang terbuat dari berbagai daun yang dikeringkan. Berkali kali aku mencoba dan selalu gagal. Perasaan putus asa menyerang ku dan mencoba mengajak ku untuk tak usah lagi berusaha. Ku hiraukan perasaan itu. Pernahkah kedua orang tua ku berputus asa saat mencoba membangkitkan semangat ku agar aku tak malu dengan kondisi ku?? tidak. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa dengan ringannya berputus asa begitu saja. Sungguh hal yang begitu memalukan bila aku melakukan itu.
3 tahun lamanya aku mempelajari seluk beluk mengenai berbagai macam daun. Mengikuti berbagai perlombaan, menciptakan berbagai kreasi unik menurut ku. Kecintaan ku pada daun daun kering ternyata mampu menyihir seorang wisatawan asing untuk mengajak ku lebih dalam mempelajari daun kering diluar negeri. Dengan pertimbangan penuh,aku menyetujuinya. Ketika aku sampai pada tempat tujuan ku, Eropa, ternyata disana sedang dalam musim gugur. Jatuhan demi jatuhan daun daun kering bagai kerlipan emas. Tak kulewatkan kesempatan itu untuk memunguti daun maple yang sudah ku impikan sejak awal aku meniti keterampilan ini.
Tak menunggu esok hari, aku segera membuat keterampilan pada daun maple yang kering. Ku pastikan daun maple pertama yang ku buat sampai pada kedua orang tua ku. Bertahun tahun aku meniti langkah dengan pasti. Mulai merambah pada bisnis. Tanpa sadar sudah banyak orang yang menganal diriku. Berbagai pertanyaan mulai muncul. Pendidikan terakhir, proses sampai aku berhasil sampai sekarang, yang berperan paling peting dalam hidup dan lainnya. Dari semua pertannyaan hanya satu pertanyaan yang paling ku sukai. Dari mana asal mu?? Dengan sejuta senyuman yang ku ukir, aku menjawab “aku berasal dari Indonesia”.
Ntahlah mengapa pertanyaan itu yang paling ku sukai. Ku rasa aku sangat mencintai negara ku. Aku bangga akan diriku yang bisa membawa nama negara dengan baik. Saat ini, ingin sekali ku teriakan kepada seluruh dunia “aku Risa, wanita berusia 23 tahun tanpa kaki berhasil membuat mu bangga akan diriku, Indonesia.”

Jumat, 06 September 2013

Tin

Karya: Oktarina Khairunnisa(XI IPA 3)


Mentari pagi merangkak naik, datang bersamaan dengan semburat kemerahan dengan gumpalan awan putih bagai kapas yang mengambang dilangit, bertebaran begitu saja.Angin meluncur dari sela-sela ranting pohon, menggelitik dedaunan, menimbulkan riuh. Burung-burung kecil keluar sarang, terbang rendah dengan formasi sedemikian rupa,menari diudara sambil berdendang, menambah riuh nyanyian dedaunan. Embun pagi bergelayut manja pada ujung buah-buah lada, sebelum meluncur jatuh membasahi tanah, yang kemudian segera disusul oleh bau khas tanah basah yang menyeruak.

Semuanya sungguh saling melengkapi, menciptakan suatu harmoni pagi yang luar biasa menakjubkan, menenangkan jiwa, menegur halus bahwa betapa karunia Tuhan tak terhingga. Semuanya sungguh membekas di relung hati, menggetarkan rindu-rindu akan harmoni pagi yang hanya bisa kutemui di satu tempat saja. Dimana? Ah, tentu saja pertanyaan ini tak memerlukan jawaban. Yang kuperlukan hanya pertemuan.Aku rindu, teramat rindu. Bangka, tunggu aku.

Ini tahun ketiga aku menumpang hidup pada kota besar menakjubkan dengan gedung-degung menjulang tinggi, seolah berlomba-lomba mencapai langit. Kesibukan sekolah serta terbatasnya uang kiriman dari orang tua mau tidak mau memaksaku untuk tidak menghirup segarnya udara tanah kelahiran selama kurang lebih tiga tahun.

Rindu? Ah, rindu itulah yang setiap hari menjadi bayang-bayangku. Wajah tegas nan bijaksana Ayah, wajah lembut menenangkan Mamak, Wajah ceria Nay –adik perempuanku- dan Wajah menyebalkan Zul –adik laki-lakiku itu memang super jahil- terus berputar-putar di kepalaku. Juga kata rindu dari sahabat-sahabatku, yang berebut membisiki telinga. Rinduku tak lupa pada barisan kebun lada dan karet subur masyarakat Bangka dan debur ombak yang menghempas bebatuan disana. Semuanya menuntut pertemuan.

Ayah, Mamak, Nay, Zul, sahabat-sahabatku, tenanglah. Kita akan segera bertemu, bersama berkumpul lagi, bercanda tawa, bertukar cerita, bertatap muka, melihat langsung apa saja perubahan yang tercipta selama tiga tahun ini. Bukankah selama tiga tahun ini kita hanya berhubungan lewat telepon dan sms?

Hanya soal waktu aku akan tiba disana. Sesaat lagi, tak kurang dari tiga jam lagi. Lihat Ayah, Mamak. Anak gadismu ini akan pulang. Membawa banyak oleh-oleh.Membawa rindu yang tak terbendung.

“Tin, yakin kau tidak ingin memberitahu keluargamu dulu?”Pertanyaan Azwa memecah lamunanku.Ia menatap lamat-lamat wajahku, mencari kepastian. Tangannya yang sedang memasukkan baju-bajuku ke koper terhenti.

Aku mengangguk yakin.Tersenyum simpul. Bagaimana lah ini akan disebut kejutan menyenangkan kalau aku memberitahu keluarga akan kepulanganku ini?

“Tiga tahun kau tidak pulang, Tin.Dua tahun terlewati lagi, maka aku akan memanggilmu Toyib.”Celetuk Rika enteng. Oh, lihatlah. Ekspresi wajah dan gaya bicara gadis itu sama saja, selalu berlebihan.

Aku hanya tertawa kecil menanggapinya.

“Perkataan Rika ada benarnya, Tin. Tiga tahun kau tidak pulang, berkomunikasi dengan keluarga hanya lewat telepon, mungkin mereka akan kaget sekali ketika melihatmu tersenyum didepan rumah, kaget ketika melihat begitu banyak yang berubah darimu, kaget ketika mendapati Tin mereka sudah menjadi gadis yang matang—“

“Lebih tepatnya semakin tua.Semakin keriput. Bisa-bisa mereka tak mengenalimu lagi, Tin. Lantas bertanya mana Tin-ku yang imut menggemaskan?”Rika memotong ucapan lembut penuh perhatian Azwa dengan cepat, dengan celetukan khasnya yang sekenanya.

Aku melototi Rika, gadis berambut pendek dan berlesung pipi itu selalu saja seenaknya, meski aku tahu dia sungguh bercanda, dia sungguh mencintai siapa pun yang mencintainya, termasuk kami –Aku dan Azwa-para sahabat satu kos-nya.

“Semua sudah siap, Tin.Ada lagi yang bias kubantu? Azwa menarik resleting koperku, menguncinya, lantas tersenyum menenangkan. Gadis ini memang menakjubkan.Wajahnya keibuan, penuh aura positif. Senyumnya selalu tulus, menenangkan. Tingkah lakunya lembut, penuh pertimbangan, penuh tanggung jawab, rajin, dengan senang hati membantu sesama. Terkadang, dengan melihat wajah Azwa atau mendengar kata-kata menakjubkan yang keluar dari bibirnya membuatku teringat pada Mamak, maka semakin bertambahlah intensitas rindu itu.

“Terimakasih, Wa. Terimakasih, Rika.” Aku berdiri, mengangguk dan tersenyum sama tulus kepada keduanya. Meski sesungguhnya Azwa jauh lebih banyak membantu dan Rika jauh lebih banyak berceloteh tak karuan, namun tak mengapa, Azwa tak pernah mempermasalahkannya.

“Aku pergi dulu.Tunggu aku di kos sederhana kita ini 3 minggu lagi.”Aku merapikan rok dan kemeja panjangku yang sedikit kusut, lalu mengulur jilbab biru mudaku hingga menutupi dada.

“Wa, jaga Rika ya. Ka, kau tolong jangan bikin ulah terus ya, kasihan Azwa. Kalau kau bikin susah Azwa, selepas aku pulang, kau akan aku ikat dan kukurung di kandang ayam Bu Jun.”

Aku tertawa lepas melihat Rika yang mulai mencicit tak terima.Azwa hanya tersenyum, merapikan jilbabnya, lantas memelukku.Aku membalas pelukannya.

“Aku dan Rika pasti akan rindu sama kamu, Tin.Hati-hati ya. Do’a nya jangan ketinggalan. Salam untuk Mamak dan Ayahmu.” Ia melepaskan pelukannya. Menitikkan mata mengingat ia tak bisa pulang karena sedang sibuk-sibuknya kuliah, begitu pula Rika.

Aku mengangguk.Mengabaikan protes Rika yang tidak ikut adegan mengharukan ini.

***

Oktober, 2006

Pesawat yang kutumpangi baru saja mengepakkan sayapnya, melesat meninggalkan Jakarta, melayang diudara bersama kapas-kapas raksasa yang bergumpal dan berbaur bersama kabut.

Aku menatap keluar jendela pesawat. Bahkan potongan-potongan awan itu sempurna membentuk wajah tersenyum Ayah dan Mamak. Aku tersenyum geli. Aku sengaja tak memberitahu mereka bahwa aku akan pulang hari ini. Biarlah ini menjadi surprise yang menyenangkan. Manapula mereka tahu anaknya ini dapat pulang ke Bangka berkat honor ku menulis cerpen, dongeng, puisi, apapun itu ke majalah-majalah dan koran.

Uang yang dikirimkan Emak sesungguhnya cukup untuk kebutuhanku sehari-hari. Aku juga tak perlu memikirkan biaya kuliah karena aku termasuk mahasiswi yang mendapat beasiswa.Tapi untuk pulang ke rumah, aku benar-benar harus mencari uang tambahan. Maka ketika Azwa menawariku untuk mengirimkan tulisan-tulisanku ke media cetak, aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengangguk.

Jingga sedang menggurat senja ketika aku menginjakkan kaki didepan rumah. Mamak yang sedang menyiram tanaman menatapku lamat-lamat. Tak percaya. Lantas menjatuhkan gayung yang ia gunakan untuk menyiram tanaman lalu lekas memelukku erat. Aku membalas pelukannya, setitik kristal bening itu tak mampu lagi kubendung, jatuh begitu saja.

Sambutan dari Ayah, Zul dan Nay sama hangatnya, bahkan Nay tak mau melepaskan pelukannya. Hanya saja memang sambutan dari Mamak selalu penuh haru. Namun semuanya menyenangkan, sama menyenangkannya dengan acara makan malam sederhana selepas shalat maghrib berjemaah kali ini.

“Kalau tahu kau akan pulang, Mamak akan masak ikan lempah kuning dan tumis pucuk ubi kesukaanmu, Tin. Atau sekalian otak-otak ikan yang selalu kau bilang paling enak sedunia itu.” Mamak berkata pelan dengan nada rendah, namun tetap tersenyum.

Aku mengerti sekali maksudnya. “Tak apa, Mak. Nasi hangat dengan telur asin dan lempah darat ini juga luar biasa lezat. Semua masakan Mamak itu masakan terlezat sedunia.” Aku tersenyum lebar, mengambil sepiring nasi lantas mengambil lempah darat dan telur asin dengan semangat.

“Kenapa kau tak bilang kau hendak pulang, Tin? Ayah dan Mamak bisa saja mengirimkanmu uang untuk membeli tiket pulang, kau tak perlu berlari kesana kemari mengirim cerpenmu demi mendapatkan uang itu.” Kali ini Ayah yang bersuara.

Aku menelan nasi yang sedang kukunyah, lalu berkata, “ Tak usah, Yah. Aku juga ingin merasakan uang hasil jerih payahku, ah lagi pula aku samasekali tak merasa terbebani. Ayah lupa? Menulis adalah hidupku. Bukankah dengan mempublikasikan tulisan-tulisanku itu, aku jadi tahu apakah tulisanku bagus, layak dimuat atau tidak, apakah orang menyukainya…”

“KAK TIN SUDAH JADI PENULIS??!TULISANNYA ADA DIMANA-MANA?!! WAAAH KEREN!!”seru Nay tiba-tiba. Nyaris tersedak aku mendengarnya.

Dengan buru-buru aku mengoreksi kalimatnya, “Bukan penulis terkenal seperti yang kau bayangkan, Nay.Kakak hanya menulis cerpen, puisi, cerbung, dongeng dan lainnya, lalu mengirimnya ke majalah, tabloid dan koran. Tidak lebih. Hanya itu. Kakak tidak punya buku sendiri, jauh sekali dari penulis terkenal semacam J.K Rowling.”

“Iya.Jauuuuh sekali. Sejauh apa, kak?” Tanya Zul dengan wajah meledek. Aku mencubit gemas lengannya. Nay juga sibuk mengacungkan sendoknya, pura-pura hendak memukul Zul.

“Gimana kabar keluarga yang lain, Mak? Tetangga? Teman-temanku? Ah tentu saja, kebun lada dan pantai apa kabarnya, Mak? Apakah mereka rindu padaku?” aku menyeringai.

“Tidak ada yang rindu, Kak Tin.Mereka malah bilang kalau Kak Tin sudah lupa sama mereka, tak pernah pulang lagi.”

Aku tak menghiraukan celetukan Zul, hanya mendengarkan takzim apa yang dikatakan Ayah.

“Semuanya baik, Tin.Kebun lada tersayangmu itu juga baik, masih dibelakang rumah, belum berpindah. Buah-buahnya pun baik, penghasilan yang Ayah dan Mamak dapatkan pun baik…. Semuanya baik kecuali….” Ayah menghentika kalimatnya.

Aku mengernyitkan alis. Menunggu dengan tak sabar. Nada bicara Ayah sungguh janggal. Aku mendengar ayah menghela nafas panjang.

“Kebun lada kita memang baik. Namun yang lain tidak. Kebun lada tetangga-tetangga dan masyarakat lainnya nyaris tewas semua. Kau tak kan semudah dulu menemukan kebun lada, Tin. Semuanya sudah berganti dengan kolong-kolong TI, atau paling beruntung, kebun lada itu digantikan oleh kebun sawit yang gagah luarbiasa. Berdiri kokoh. Lada-lada itu terbunuh.Tidakkah kau melihatnya di perjalanan pulang kemari?”

Aku menelan ludah. Apa? Tidakkah aku melihatnya? Tentu saja tidak. Aku tertidur di bus sepanjang perjalanan dari bandara sampai didepan gang rumah. Aku samasekali tak memperhatikan.

“ Pantai-pantai juga, Tin.Memang beberapa masih ada yang baik, yang indah sekali. Namun ada pula beberapa pantai yang keindahannya diusik oleh kehadiran mesin-mesin TI apung. Mereka begitu berkuasa membelah lautan, menyedot timah, meninggalkan palung-palung mematikan.”

Aku menelan ludah lagi.Benarkah?

“A..apakah mereka banyak sekali, Ayah? Ba..bagaimana dengan kondisi pantai-pantai dan bekas kebun lada itu?” aku bertanya getir. Keringat dingin perlahan mengalir di pelipisku.

“Banyak sekali, Tin. Kau tak kan mampu menghitungnya. Ada dimana-mana.” Ayah menatapku takzim. Raut wajahnya jelas kecewa dan sedih tak kepalang.

Aku menelan ludah entah untuk keberapa kalinya.Ya Tuhan.Kenapa aku tak tahu? Benarkah separah itu? Tapi..tapi mengapa? Menagapa mereka melakukannya?

“Jangan bicarakan hal itu dulu, Yah. Nah, Tin. Makanlah dulu.Kita bisa melanjutkan ceritanya nanti.”Kata Ibu menenangkan.

Apa? Makan dulu? Bu, Tin benar-benar minta maaf. Masakan Ibu memang paling enak sedunia, tapi sungguh, mendengar kabar buruk ini membuat perut Tin benar-benar terasa kenyang.

***

Keesokan harinya, setelah membereskan rumah, dengan ditemani Nay, aku membawa diriku untuk membuktikan ucapan Ayah. Harusnya aku tak perlu meragukannya. Tanpa perlu mencari bukti seperti inipun aku harusnya tahu bahwa Ayah benar. Ayah tak berbohong. Ah, tentu saja, ayah tak pernah berbohong.

Baru berapa meter kami berjalan, aku sudah dapat melihat kebun-kebun lada tetangga yang beralih menjadi kebun sawit. Aku tahu sawit juga merupakan mata pencaharian yang baik sekali, namun tidakkah mereka tahu betapa lebih baiknya mereka bertanam lada dibandingkan sawit?

Dan lihatlah tanah-tanah bolong dihadapanku ini. Tak ada lagi kebun ladaku yang hijau-kuning-merah. Tak kan ada lagi embun-embun bening yang menggantung dijung lada-lada ranum. Tak ada lagi kegiatan masyarakat memetik lada.

Bagaimana bisa? Yang kulihat hanyalah tanah luas nan gersang dengan lubang menganga dimana-mana. Bukan lagi pepohonan yg tertancap sempurna melainkan mesin-mesin TI, Sakan, dan benda-benda lain yang tak ku mengerti. Hatiku teriris-iris.

Dan ketika Nay membawaku ke salah satu pantai yang tak terlalu jauh dari rumah, semakin berdarah-darahlah hati ini. Rasanya pedih tak terkira melihat pantai-pantai yang menakjubkan itu terkotori oleh kapal-kapal TI Apung yang dengan angkuhnya berdiri, menunjukkan penuh kekuasaannya.

Tubuhku seolah kehilangan penyangga. Kakiku lumpuh seketika.Jatuh ambruk begitu saja ke pasir putih lembut pantai Bangka. Darahku terasa berdesir.

“Kakak belum melihat semuanya, belum Kak… ini hanya sebagian kecil saja…” ujar Nay pelan. Sangat pelan. Berbisik. Seolah tak ingin aku mendengarnya.

Aku tertohok. Ini… ini tak akan bisa dibiarkan.

***

Aku marah? Jelas sekali aku marah. Pantai-pantai dan kebun lada itu temanku sejak kecil. Mereka menemaniku tumbuh. kami tumbuh bersama. Aku hanya pergi sebentar, setelah aku kembali kenapa semuanya musnah? Kenapa semuanya jadi berubah? Kenapa banyak sekali komponen-komponen tak diperlukan disana? Mesin-mesin itu, tanah-tanah bolong itu, aku sungguh tak membutuhkannya. Lantas untuk apa mereka kemari? Apa yang ingin mereka perbuat?! Menghancurkan bumi-ku hanya demi kepentingan pribadi?! Tidak adakah yang melarang mereka? Sebebas itukah mereka melakukannya? Oh ayolah, dimana kesadaran mereka?!

Berbagai macam pertanyaan, emosi, berkecamuk di kepalaku. Memenuhi isi kepalaku hingga ingin meledak. Aku sungguh tak bisa membiarkan ini terus terjadi. Harus ada yang menghentikannya. Atau semua akan bertambah parah.

Tapi apa yang harus aku lakukan? Apapula yang bisa seorang mahasiswi sepertiku lakukan? Mengembalikannya seperti semula? Mengembalikan kebun lada ku? Seorang diri? Lagipula kulihat gadis lain seusia ku bersikap biasa saja. Mereka seolah menikmati hidup mereka. Bukankah harusnya aku seperti mereka? Tidak perlu lah aku mencampuri urusan ini. Tapi tidak. Harus ada yang menghentikan semua ini. Aku tak peduli apakah aku akan menentang mereka sendirian. Aku tak peduli. Terserah mereka mau bilang apa, aku hanya ingin Bangka-ku kembali.Meski aku sendiri yang melakukannya.

Maka dengan kalap,dengan emosi di ubun-ubun , sepulangnya dari tanah-tanah bolong, pantai-pantai kotor oleh TI apung, aku mulai menulis, memuntahkan apapun yang ada dalam pikiranku ini.Meludahkan segala unek-unek. Aku bahkan tak sadar tulisan itu sudah panjang sekali. Penuh dengan emosi. Masa bodoh. Mereka harus membacanya. Mereka harus tahu apa yang sedang mereka perbuat.

Namun ternyata tulisan itu tak membawa kabar baik. Jangankan membawa kabar baik, pihak koran tempatku mengirim tulisan itu menolak mentah-mentah tulisanku. Apa katanya? Tulisanku tak ada artinya?Hanya luapan amarah gadis labil yang datang ke redaksi dengan wajah memerah marah?

Setengah mati aku menahan diri untuk tidak melempar wajah si editor dengan tulisanku itu. Tidak, aku takkan melakukannya. Aku memang sulit mengendalikan amarah, namun aku selalu mentamengi amarah ku dengan ucapan Mamak, Marah itu asalnya dari setan, Tin. Setan akan tertawa terpingkal-pingkal melihatmu marah-marah lantas berbuat kasar, melakukan hal buruk yang ia bisikkan. Mamak tahu anak mamak tak pernah ingin ditertawakan atau bahkan tertawa bersama setan, kan? Sebaliknya, Tin. Tersenyumlah.Senyum itu ibadah, kau tahu itu.

Mamak selalu benar. Editor berkepala botak dengan kening berkerut-kerut itu terperangah melihatku tersenyum ramah kemudian mengucapkan terimakasih, berpamitan pulang.

Editor berkepala botak dengan kening berkerut-kerut itu benar. Tulisanku memang tak terlalu berarti. Apa dia bilang? Tulisanku hanya luapan amarah? Ah, itu benar adanya. Setelah kubaca dengan tenang, aku baru menyadari kertas yang kuserahkan padanya hanyalah ledakan-ledakan emosi berbentuk tulisan. Memang tak ada kata kasar disana, namun jelas sekali bahwa aku begitu menyalahkan orang-orang, tak ada sebab akibat, tak ada solusi.

Maka aku pun mulai menulis lagi. Kali ini dengan kepala dingin. Dengan emosi terkendali. Harusnya aku tahu, menulis seperti ini justru jauh lebih menyenangkan. Aku tak melupakan kesalahanku, seperti kata orang bijak, belajar dari kesalahan. Maka aku benar-benar mempraktekkannya. Aku menulis dengan tenang, menuangkan banyak informasi mengenai dampak negatif TI dan ebun sawit dibandingkan lada, menjelaskan bagaimana kondisi Bangka untuk kedepannya, bagaimana pengaruhnya pada kehidupan masyarakat Bangka, apa sajakah alternatif yang dapat dilakukan, apapun yang berguna aku tuangkan dalam kertas itu.

Tulisan keduaku diterima. Untuk kedua kalinya, aku bertemu dengan bapak-bapak berkepala botak dengan alis berkerut-kerut itu. Tak ada kata-kata kasar seperti kemarin. Tak ada sepatah pun. Ia hanya diam, keningnya masih berkerut. Tatapannya sengit ketika menyerahkan honor tulisan itu padaku. Aku tersenyum, “Uangnya tak usah juga tak apa, Pak. Saya hanya ingin orang-orang membaca tulisan saya dan melakukan perubahan.” Dan Bapak berkepala botak itu sekali lagi berusaha menyembunyikan keterperangahannya.

Seminggu sudah aku berada dirumah setelah menuntut ilmu di kota orang. Aku bersyukur aku masih terbangun seiring dengan mentari pagi yang merangkak naik, menelan kegelapan. Aku selalu suka suasana pagi di desa kecilku di pulau cantik ini.

Sinar mentari membasuh bumi, burung-burung kecil bersenandung mengucap syukur. Embun pagi meluncur di sela-sela dedaunan dan buah lada, udara pagi mengelus halus pipi, membelai rambut. Lenguhan spizaetus cirrhatus mengawali hari. Sederhana namun begitu istimewa.

Tulisan yang kemarin kuserahkan sekarang telah bergabung bersama potongan-potongan berita lain di halaman sebuah surat kabar. Aku tahu semua keadaan ini takkan berubah seperti semula hanya karena sepotong artikel itu. Mungkin lebih banyak? Siapa tau? Aku semakin gencar menulis, menggali banyak informasi lagi di internet, menarikan jari-jariku pada keyboard computer, mengirim ke berbagai media cetak.

Waktu berlalu tanpa terasa. Aku tak tahu lagi berapa banyak artikel yang aku kirimkan –yang Alhamdulillah selalu diterima-. Aku tak sempat menghitung. Aku bagai binatang kelaparan yang dengan rakus melahap apapun yang ada dihadapannya.

Namun hingga seminggu kemudian, artikel-artikel itu tak menghembuskan kabar baik. Jangankan membawa perubahan bagi masyarakat luas, perubahan-perubahan kecil dari masyarakat sekitar desa, bahkan tetangga kiri-kanan pun tak terlihat. Aku bahkan tak mendapat respon apapun. Semuanya berjalan normal, tak ada yang berbeda. Mesin-mesin TI masih meraung-raung baik di lahan kosong maupun di pantai biru bak beludru. Kebun-kebun sawit dengan pesat memberantas kebun lada. Aku tak sanggup melihatnya. Air mataku kerap kembali tumpah mengingat bagaimana mesiun-mesin gagah itu meraup bumi Bangkaku, lantas pergi tanpa menimbun kembali lubang yang mereka buat. Bumiku menangis pedih. Wajahnya penuh lubang. Inikah balasan yang ia terima atas apa yang telah ia berikan pada manusia? Beginikah manusia membalasnya?

Aku tumbuh seiring batang-batang lada itu meninggi. Aku tumbuh seiring buah ;lada itu menguning-merah., aku tumbuh seiring debur ombak yang dipecah batu karang. Lantas ketika aku dewasa, tak bisakah mereka menemaniku kembali?

***

Ini hari kedua puluh aku berada di Bangka selama kuliah tiga tahun di seberang. Besok aku akan kembali ke Jakarta. Aku terlambat menyadari bahwa aku tinggal di desa. Surat-surat kabar mungkin tak banyak yang tersebar disini. Jika adapun, mungkin tak terlalu mereka hiraukan. Bagaimanalah mereka akan membaca tulisanku jika hanya beberapa yang rajin membaca surat kabar?

Maka ini adalah langkah terakhir sebelum aku kembali menduduki kursi kuliah. Kemarin aku telah berbicara dengan kades. Menceritakan masalah pelik ini, akibatnya, dampak negatifnya, menjelaskan berbagai hal, berunding, berusaha membujuk, memelas, memohon. Tidak mudah memang, namun akhirnya aku berhasil.

Lihatlah warga yang berduyung-duyung datang ke balai desa. Bertanya, ‘Ada apa gerangan?’ ‘kenapa kita dikumpulkan?’ ‘aduh ayamku belum diberi makan’ dan lainnya. Wajah-wajah penasaran, wajah-wajah bingung, wajah-wajah keberatan.

Aku menarik nafas panjang. Merapikan pakaian dan jilbabku sejenak, lalu melangkah pasti kemudian berhenti tepat ditengah-tengah mereka yang duduk melingkar. Aku mengangguk seraya memasang senyum terbaik. Senyumku harus terlihat meyakinkan, menjanjikan, entahlah seperti apa senyum yang kuberikan. Aku menatap mata-mata penuh tanda tanya itu.

Aku memberi salam. Semuanya lantas menjawab kompak. Aku memperkenalkan diriku sesopan mungkin. Sebagian yang mengenalku hanya manggut-manggut. Dan ketika aku mengatakan tujuanku mengumpulkan mereka disini, mereka semakin tidak mengerti. Nampak antusias, menegakkan posisi duduk, mengamatiku lamat-lamat. Beberapa wanita menyelipkan rambut ke belakang telinga.

“Bapak-bapak dan ibu, mohon maaf telah mengganggu waktu kalian sebentar. Saya ucapkan terimakasih atas kehadirannya. Saya adalah puteri daerah ini yang kebetulan telah tiga tahun menuntut ilmu di ibukota. Sudah tiga tahun pula saya tidak pulang ke Bangka. Ternyata cukup banyak perubahan yang terjadi didaerah kita, khususnya desa kita. Pertumbuhan ekonomi untuk saat ini tampaknya sangat bagus. Saya ikut gembira. Namun dibalik semua itu, ironisnya keadaan alam kita sangat memprihatinkan. Hutan-hutan kita telah banyak yang bertransformasi menjadi padang pasir dan lubang-lubang bekas TI. Sungai yang dulunya jernih sekarang keruh kepuh. Kebun lada dan karet telah berubah menjadi perkebunan sawit. Hal ini sebenarnya sangat tidak baik untuk masa depan anak cucu kita. Bayangkan bila hutan kita habis, bukan keindahannnya saja yang hilang, tapi mereka juga akan kehilangan mata pencaharian untuk hidup. Janganlah kita selalu mengambil keuntugan sesaat tanpa memikirkan nasib anak cucu kita kelak.

Sebelum terlambat mari kita jaga alam kita, cintai alam indah anugrah tuhan ini untuk kita dan anak cucu kita. Mari kita kembali ke kebun karet dan lada kita, walaupu hasilnya tidak sehebat timah. Insyaallah barokah. Kita dijadikan Allah sebagai khalifah dimuka bumi ini untuk menjadi rahmat bagi seisi alam. Rahmat bagi bumi, bagi tanaman, bagi hewan, terutama bagi sesama manusia. Manusia diciptakan bukan untuk menjadi penghancur atau perusak alam—“

“Tapi kenapa?” seorang di pojok memotong ucapanku. Aku menoleh. Seorang remaja laki-laki berusia sekitar enambelas tahun terlihat...entahlah, Matanya menyiratkan protes. Tatapannya dalam sekali. Dia Gilang, rumahnya tak jauh dari rumahku.

“Ya. Kenapa kami harus menuruti kemauanmu? Ini pekerjaan kami.” Sebuah suara lagi dngan dingin menohokku, mengawali protes dari yang lain.“TI memberikan hasil yang lebih menjanjikan.” “kebun sawit untungnya jauh lebih besar daripada lada.”

Berbagai macam protes terlotarkan, mulai dari tolakan mentah-mentah hingga komentar halus yang meminta penjelasan, selebihnya diam menyimak. Aku tahu ini takkan mudah, dari awal aku tahu itu. Aku berdehem, memecah keributan, lantas tersenyum, sebelum akhirnya berkata, “Terimakasih atas segala respon yang telah bapak, ibu, kakak-kakak dan adik-adik berikan. Izinkanlah saya menjelaskan permasalahan pelik ini secara rinci.” Dan puluhan pasang mata itu pun kembali menghujamku.

“Pertama, marilah kita bicarakan masalah tambang inkonvensional yang membanjiri pulau kita. Jujur, rasanya saya sedih sekali melihat pulau kita sekarang. Hutan-hutan musnah, berganti dengan lubang-lubang bekas TI. Bayangkan, kita telah disuguhi alam dengan panaroma alam yang luar biasa indah, dengan kehidupan, dengan segala macam hal lainnya yang amat berguna bagi kehdupan manusia. Namun kita membalas budinya dengan menebang mereka, memusnahkan satu persatu, mengeruk tanah bekas hutan itu sempat berdiri kokoh, meraup semua timah yang ada. Tak puas, menggali lubang lain lagi, mengambil timah lagi, tak terhitung banyaknya lubang digali dan yang tak pernah ditimbun kembali. Apakah hanya dilakukan di satu daerah dan satu orang saja? Tentu tidak. Tanah kita mengandung timah yang banyak sekali, dimana-mana. Setiap mata menginginkannya. Lantas jika hampir seluruh daeah ditebang hutannya, dikeruk tanahnya, ditiggalkannya lubang-lubang menganga tersebut, apa jadinya Bangka kita? Tdak hanya itu, Pak, Bu. Lahan bekas TI itu sulit sekali ditanami dengan tumbuhan, hanya beberapa jenis tumbuhan yang mampu hidup di sana. Butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan kesuburannya kembali.”

Aku menean ludah. Menyapu pandangan hngga ke sudut balai. Semua mata menatapku takzim. Beberapa pasang mata masih terlihat tak sependapat. aku baru akan berbicara lagi ketika seseorang berkata, “Lalu apa masalahnya dengan kebun sawit? Sawit jelas tidak merusak lingkungan, kan? Sawit memberikan kesejahteaan yang lebih menjanjikan ketimbang lada yang amat membantu perekonomian rakyat, kau tentu tahu itu.”

Aku tersenyum menatap seorang lelaki paruh baya disana. Ya, Pak. Tentu aku tahu itu. “Tidak ada masalah dengan kebun sawit, Pak. Kebun sawit memang baik sekali untuk menambah penghasilan kita, tapi tidak untuk lingkungan.” Lelaki tadi mengangkat alis, bingung. “Sama saja, Pak. Di dalam tanah pada lahan yang ditanami sawit akan dipenuhi oleh akar-akar sawit yang merusak kesuburan tanah dan akan sulit ditanami oleh tumbuhan lain, ini juga memerlukan proses yang lama agar bisa ditanami kembali. Beda sekali dengan lada dan karet. Lahan bekas lada dan karet dapat ditanami oleh tanaman apapun. Kalian tentu dapat memikirkan dan menyimpukan apa dampak yang akan terjadi, bagaimana nasib anak cucu kita nanti bila kegiatan-kegiatan ini tetap dilakukan.”

Aku meghela nafas. Warga terlihat diam untuk beberapa detik. Mungkin merenung, berpikir, atau apapun itu. Beberapa nampak berbisik-bisik. Wajah-wajah keberatan tadi juga sudah sirna. Aku menunggu. Tak adakah yang ingin memberikan komentar atau tanggapan? Buknkah awalnya ramai sekali komentar yang membru?

Sayangnya tak ada komntar hingga kepala desa memintaku menyudahi pertemuan ini. Aku mengangguk. Mereka sibuk berbisik-bisik, berunding antara mereka saja. Tak apa, mereka butuh waktu untuk memahami ini.

Dan ketika warga desa mulai berbondong-bondong meninggalkan balai desa, sebuah tepukan halus melayang kemudian mendarat dibahuku. Aku menoleh. Pak Yusuf, kepala desa tempat tinggalku, yang meski telah lanjut usia, namun masih terlihat sehat dan segar itu tersenyum lebar. Aku tersenyum lalu menyalaminya.

“Kau sungguh baik sekali, Tin. Kau gadis yang baik, cerdas, peduli sekali terhadap lingkungan. Andai seluruh gadis di kampung ini seperti kau.”

Aku tersipu. “Terimakaih Pak, Yusuf. Saya hanya menyampaikan apa yang saya etahui saja. Semua tak ada artinya tanpa bantuan bapak.”

“Kau masternya, Tin. Oh ya, tadi ada dua gadis remaja yang menghampiri saya, mereka bilang mereka sangat setuju denganmu. Mereka ingin jadi seperti kau, Tin. Mereka igin mengubah Bangka kita ini kembali lagi”

Aku terenyuh.

***

Mentari terbit menelan kegelapan. Malam menjelma pagi yang tenang. Burung-burung kecil bersenandung merdu, mengiringi kepergianku kmbali ke Jakarta. Aku, Mamak, Ayah, Nay dan Zul berkumpul di teras rumah. Mengantar kepergianku untuk kembali lagi. Aku memeluk dan mencium tangan ibuku untuk yang kesekian kalinya.

“Hati-hati, nak. Selalu jaga dirimu, berhati-hati lah selalu. Jangan lupa untuk selalu shalat dan berdo’a, jangan lua untuk selalu mengabari kami, katakan saja kalau ada ssesuatu yang au butuhkan” Ibu memegang kedua pipiku. Aku mengangguk.

“Belajar yang giat, Tin. Banggakan orang tua-mu ini.” Pesan ayah. “Kak Tin kalau pulang lagi sudah harus jadi penulis hebat ya!” kali ini seruan Nay. “Kak, kalau pulang jangan lupa bawakan oleh-oleh yang banyak ya” Terkhir, Zul berkata kalem, kalem yang dibuat-buat.

Aku tak menjawab, lebih banyak mengangguk dan tersenyum menahan haru. Sekali lagi, aku berpamitan pada keluarga tercintaku, kemudian melangkah keluar dari rumah ecilku, memasuki mobil salah satu tetanggaku yang biasa digunakan sebagai angkutan umum ke kota.

Mobil perlahan berjalan, aku melambai, menatap tak berkedip pada empat orang paling kucintai itu. Tak hnti tersenyum menahan sedih harus pergi lagi secepat ini. Namun senyum Ibu selalu menenangkan. Aku pergi untuk kembali. Setelah ini aku akan kembai lagi, membawa kabar baik untuk mereka semua. Itu cukup menghuibur.

Rumahku telah jauh tertinggal. Aku menatap apa pun yang ada di bumi Bangka-ku yang melesat dari jendela kaca. Lahan-lahan TI itu masih ada. Kebun-kebu sawit berdiri kokoh. Aku tak tahu bagaimana tanggapan warga, selain dua remaja perempuan itu. Aku teah melaksanakan apa yang ingin aku lakukan. Aku telah memberikan apa yag aku tahu. Aku telah berusha. Orang bijak berkata, setiap usaha akn membuahkan hasil. Aku tak tahu apa hasil dari pertemuan singkat kemarin, serta tulisan-tulisanku di surat kabar. Jadilah lebihbaik, jadilah lbih baik, kalimat itu menggerogoti tubuhku. Nasib Bangka-ku tentu ada pada tangan-tangan pemuda disana. Apakah mreka kaan merubahnya menjadi lebih baikm atau bahkan lebih buruk. Siapa tahu? Wallahualam. Aku hanya berharap yang terbaik, apapun itu.(Reni dan Dewi XI IPA 3)

Jumat, 05 Juli 2013

Info Blog

Blog Pendidikan Kependudukan Indonesia. Dapatkan informasi tentang kependudukan.
Klik www.blogpki.blogspot.com. Belajar Yuk!!

Rabu, 26 Juni 2013

Meraih Prestasi

Prestasi. Kata yang memiliki delapan huruf ini selalu menempel dalam memori otak ku. Kata sederhana ini ditempel oleh Ibu ku ketika aku pulang ke rumah seminggu yang lalu. Aku termenung di dekat jendela kamar ku, bagaimana caranya aku dapat meraih prestasi itu? Sedangkan, sekarang aku mulai malas membaca buku pelajaran. Aku juga masih merasa bermimpi dapat bersekolah disini. Di daerah kelahiran ku, akan tetapi Ayah dan Ibu ku menetap di luar kota karena urusan pekerjaan. Jadi terpaksa aku menginap di asrama sekolah. Sejujurnya, aku tidak menyukai ini. Karena aku tergolong anak yang manja. Hehe.

Lamunan ku terbuyar ketika ada yang mengetuk pintu kamar ku. Aku beranjak dari tempat tidur ku dan berjalan menuju pintu.

“Huh, aku kira tadi Ibu asrama. Eh, ternyata kamu. Ada apa, Fin?” Tanya ku kepada Fina.

“Aku takut tidur di kamar, ta. Jadi, malam ini aku tidur di kamar kamu ya. Boleh kan?” Ucap Fina sambil kesusahan membawa bantal dan selimut dari kamarnya.

“Boleh dong. Ayo masuk.” Aku mempersilahkan Fina masuk ke kamar ku.

Fina adalah teman baru ku disini. Dia juga dari luar kota sama seperti ku. Jam tua yang ku bawa dari rumah sudah menunjukkan pukul 21.00. Saatnya tidur. Selamat malam dunia. Selamat malam prestasi yang belum ku temukan.

**

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Ku lihat Fina masih mimpi indah di sebelah ku. Aku mencoba membangunkannya, karena ini sudah waktu Subuh. Namun Fina masih saja tidak terbangun. Aku pun meninggalkannya bergegas pergi ke mushola. Kalau sudah waktunya, pasti Fina akan bangun dengan sendirinya. Setelah aku mengerjakan sholat Subuh aku kembali ke kamar, dan melihat Fina sudah tidak ada di kamar. “Pasti dia sudah kembali ke kamar.” Ucap ku dalam hati. Di sekolah ini aku bukan hanya ingin menuntut ilmu, aku juga ingin meraih prestasi ku. Kini aku sudah siap ke sekolah, tinggal menunggu bus sekolah yang akan menjemput kami.

“Tiiiinnnnnn~Tiinnn..Tiinnn…Tiiinnn~” terdengar bunyi klakson bus sekolah yang akan mengantar kami ke sekolah tercinta.

Aku bersama Fina menuju kelas melewati koridor belakang. Koridor paling aman dari kakak-kakak senior. Sebab, kalau kami melewati koridor depan pasti jalan kami akan di halang-halangi oleh kakak-kakak senior yang sok ganteng itu. Kelas kami memang berada di belakang kelas-kelas yang lain, kelas terakhir yaitu X-G. Suasana kelas sangat ramai karena dihebohkan oleh sebuah poster. Aku mencoba melihat poster tersebut. Wow ! Ada perlombaan olimpiade Matematika yang di selenggarakan oleh sebuah Universitas ternama di kota ku. Sepertinya seru, tapi aku sangat lemah di pelajaran ini. Padahal aku juga ingin melanjutkan jurusan IPA di kelas XI nanti.

“Hey, Ta. Nama mu sudah ku dafrtarkan untuk mengikuti lomba itu.” Ucap Tristan sambil menunjuk poster olimpiade Matematika.

“Apa? Serius? Aku kan tidak pandai di bidang ini.” Ucap ku kaget.

“Apa salahnya kamu mencoba? Siapa tahu kamu bisa menang. Kan bonusnya bisa dibagi-bagi tuh.” Ucap Tristan sambil mengeluarkan ledekannya yang garing itu.

“Bilang aja kamu juga mau mencicipi bonusnya. Haha.” Aku membalas ledekan Tristan.

“Nah, itu kamu tahu.” Tristan dengan senyumannya mengacak-acak rambut ku.

Oke. Sepertinya mulai malam ini aku harus perbanyak belajar Matematika. Karena lomba itu akan diselenggarakan 3 hari lagi. Sore ini aku juga akan mendapat pembelajaran tambahan dari Ibu Sakinah untuk persiapan mengikuti olimpiade itu. Apakah ini merupakan jalan untuk meraih prestasi? Akan ku kejar prestasi itu hingga dapat.

Menurutku, hari ini di kelas X-G banyak mainnya dibanding belajarnya. Karena sebagian guru ada yang absen. Tetapi aku tetap fokus dengan buku Matematika ku. Ini apa ya? Kok hasilnya bisa begini? Pertanyaan demi pertanyaan terungkap dari mulutku. Aku tidak sabar ingin mendapat pembelajaran tambahan dari Ibu Sakinah, karena aku akan menanyakan semua itu kepada Ibu Sakinah. Pembelajaran terakhir pun selesai. Segera aku menuju laboratorium Matematika untuk menemui Ibu Sakinah. Ternyata sedikit sekali peminat yang mengikuti lomba ini. Hanya ada 6 orang, semuanya dari kelas X. Dan ternyata lomba ini di peruntukkan untuk anak-anak kelas X saja. Fiuuh, masih ada kesempatan untuk menggapai prestasi itu. Ibu Sakinah memulai pembelajaran. Dan soal-soal yang membuatku tidak mengerti, menjadi mengerti ketika Ibu Sakinah menjelaskannya. Sepertinya sekarang aku menyukai Matematika.
**
Setelah 2 hari rutin aku mengikuti pembelajaran tambahan, kini aku sangat percaya diri untuk mengikuti olimpiade Matematika. Aku bersama teman-teman lain berangkat dari sekolah menuju Universitas yang mengadakan lomba tersebut. Terlihat Fina menyemangati ku dengan teriakannya yang membuat orang di sebelah nya menutup telinga. Dan aku juga mendapat support dari someone special, siapakah dia? Siapa lagi kalau bukan Tristan, hehe. Aku tidak berharap menang dalam lomba ini, karena ada juga peserta dari sekolah lain yang mengikuti lomba ini.

Kami memasuki ruangan ber-AC yang bertuliskan “Tempat Pelaksaan Lomba”. Ruangan yang sangat besar dan luas. Aku menjadi gugup. Keringat ku bercucuran. Akan tetapi Ibu Sakinah selalu memberi semangat untuk kami agar tidak gugup dan tetap tenang. Waktu mengerjakan soal-soal pun dimulai. Soal yang berjumlah 50 pun siap ku santap. “Soal nya cetar membahana, buu.” Teriak ku dalam hati. Akan tetapi, aku tetap percaya diri dengan jawaban ku. Toh, kalau aku kalah juga tidak apa-apa. Ini juga pengalaman pertama ku mengikuti ajang olimpiade Matematika seperti ini. Waktu pun berlalu tanpa ku sadari. Aku pun telah selesai mengerjakan semua soal itu. Cukup membuat kepala ku pusing sepuluh keliling, hehe lebay ya. Aku pasrah akan hasil lomba itu. Sekarang yang ku lakukan hanyalah berdoa agar hasilnya cukup memuaskan.

Ayah dan Ibu ku sangat senang sekali ketika mengetahui aku mengikuti olimpiade Matematika ini. Karena setahu Ayah ku, aku sangat lemah di bidang ini. Maka dari itu mereka sangat mendukung ku dalam hal ini. Rencananya ketika pengumuman lomba itu, Ayah dan Ibu ku akan datang kesini untuk mengetahui siapa yang menang. Aku sangat senang, akhirnya mereka menjengukku disini.

Aku menceritakan semua pengalaman ku ketika mengikuti lomba kepada Fina dan Tristan.

“Ta, kamu bertemu sama cowok ganteng ga disana?” tanya Fina ingin tahu.

“Mana sempat aku bertemu cowok ganteng. Toh, disana kerjaan ku cuma menghadap buku Matematika doang.” Ucap ku santai.

“Widih, untung aja otak kamu ga meledak.” Tristan mulai meledek lagi.

“Hahahaha.” Aku dan Fina pura-pura tertawa seakan-akan apa yang dibicarakan Tristan sangatlah lucu.

**

Tidak terasa, hari pengumuman perlombaan pun tiba. Ayah dan Ibu sudah datang dari

luar kota. Sekarang aku merasakan keringat dingin yang menyambar tubuhku dan jantung ku

berdegup sangat kencang.

“Baiklah, disini saya akan menyebutkan juara pertama olimpiade Matematika tingkat

SMA. Dan pemenangnya adalah……..”

Tangan ku memegang erat lengan Ibu. Mata ku pun terpenjam.

“Dan yang menjadi juara pertama adalah Novitaria dari SMA N 1..”

WOW ! Apakah aku bermimpi? Nama ku disebut sebagai juara pertama. Kereenn. Aku

pun maju kedepan untuk mendapatkan sertifikat dan bonus. Yippie. Kini aku telah menemukan

prestasiku dan telah meraihnya. Aku tidak akan pernah menyerah untuk meraih prestasi ku di

bidang yang lainnya. SELAMAT VITA J

(Elsa Sinthiya Anggraeni_XG)

Kisah Misteri Pembantu Rumah Tangga

Oleh: Geovanny Reinita Deborah L. (X.B)
Saat itu aku berumur 11 tahun.. Aku melihat di jendela seorang wanita paruh baya turun dari kereta kuda dan membawa beberapa koper besar di depan halaman rumahku dengan berpakaian rapi khas pembantu rumah tangga. Hidungnya panjang seperti nenek sihir, matanya sipit, dan kulitnya yang terlihat kasar jika dipegang. Hmm… mungkin itu adalah kesan pertamaku melihat pembantu itu. Jujur, aku sangat tidak menyukainya sejak awal melihatnya. Dia terlihat seperti nenek sihir. “dia akan menjadi kepala pembantu rumah tangga di rumah kita. Jadi, hormatilah dia, Lea” Katanya ayah saat menghampiriku.

Ketika pembantu rumah tangga itu mulai mengetuk pintu rumah kami, ayah langsung membukakannya dan menyapanya dengan ramah. “selamat datang, Nyonya. Kami harap Anda dapat betah dan senang berada di rumah kami ini.” “ohh..terima kasih atas sambutannya, Tuan Watson. Perkenalkan nama saya Helga Garrett umur 45 tahun. Saya akan mengurus beberapa keperluan dan kegiatan rumah tangga. Jika diperbolehkan, bisakah anda memperkenalkan calon anak buah saya di rumah ini?” pintanya sekaligus memperkenalkan diri. “Tentu, silahkan duduk Nyonya Garrett saya akan memanggilkan pembantu yang lain.” kata Ayah. “Maaf Tuan, bisakah Anda memanggil saya dengan Nyonya Helga saja? Jujur saya agak kurang suka dengan nama itu. Itupun jika Anda tidak keberatran.” balasnya dengan sopan. “Baiklah.” Ayah memanggil para pembantu yang lain dan aku hanya berdiri memandinginya dari kejauhan. Lalu ia tersenyum sendiri seperti akan merencanakan sesuatu…

“Nyonya Helga, perkenalkan laki – laki yang memakai topi ini adalah Thomas, tukang kebun kami. Selanjutnya wanita yang memakai celemek berwarna biru adalah Catherine. Selanjutnya wanita yang memakai celemek berwarna merah muda adalah adiknya Catherine, Anne. Mungkin Anda akan lebih sering berurusan dengan mereka berdua. Dan terakhir wanita yang memakai baju berwarna putih ini adalah Charice. Ia baru beberapa bulan di sini.”

Ahhh Charice adalah perempuan yang sempurna untuk menggantikan Ibu pikirku. Yaa walaupun baru beberapa bulan bekerja, namun ia sudah sangat memahami karakterku. Selalu menemaniku di saat aku kesepian, memberikan susu setiap pagi ketika aku bangun tidur. Dia perempuan baik, tulus, dan pastinya manis. Aku suka dia, namun tak pernah kuutarakan hal ini pada Ayah. Maklum, Ayah sangat sibuk dengan segala urusan bisnisnya sejak Ibu meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku, bersama adik – adikku Liz berumur 9 tahun, Johann berumur 7 tahun, dan Joanna berumur 5 tahun selalu memprotes kepada ayah karena tidak ada pengganti Ibu. Karena kami yakin tidak selamanya ibu tiri adalah ibu jahat. Itu adalah teori kuno menurut kami. Namun, ayah hanya menjawab “tunggulah waktunya.”

“kakak, apakah nyonya Helga orang yang menyenangkan?” tanya adikku yang paling bungsu dengan lugunya. “kita lihat saja nanti, Joanna.” jawabku. Tetapi aku yakin bahwa tingkahnya yang sopan itu menyiratkan sebuah pertanda waspada terhadapku dimulai dari senyumannya misterius itu…

Malam harinya, aku terbangun seperti biasa untuk minum air mineral. Aku pun berjalan ke arah dapur namun suatu cahaya dari sana berkilauan. Aku heran dan bingung harus bagaimana, namun kuputuskan untuk membuka pintu dapur yang tak tertutup rapat itu dan mengintip yang terjadi di sana dan terlihat kembali sebuah cahaya yang berkilauaun dua kali lipat lebih terang daripada yang telah kulihat sebelumnya. Di situ ada Nyonya Helga raut wajahnya yang menyeramkan, yang menunjukkan mata yang licik, jahat, dan tersenyum sendiri namun diiringi rasa kebencian yang mendalam. Ekspresi yang sangat mengerikan dari yang pernah kulihat sebelumnya. Dari situ aku tahu bahwa dia bukan perempuan yang baik – baik. Ia persis seperti nenek sihir…

Paginya, aku memutuskan untuk menghindarinya dan menutup mulut dengan kejadian yang telah kulihat semalam. Aku sungguh waspada dengannya, aku takut keluargaku menjadi korbannya. Aku harus sigap dengan segala gerak geriknya yang mencurigakan. Pagi itu aku sangat tidak semangat bersekolah. Kepalaku sakit. Namun Charice selalu menasihati aku bahwa aku harus rajin belajar, tidak sepertinya yang kurang beruntung karena kendala ekonomi, ia terpaksa berhenti sekolah. Charice ingin aku menjadi anak yang berguna suatu saat nanti.

Sarapan tadi pagi sungguh enak, roti sandwich dengan daging asap di dalamnya. “Roti sandwich yang enak, Chaterine.” Pujiku padanya karena ia pintar masak. “Hari ini saya tidak memasak, nona. Nyonya Helga yang memasak ini semua.” Katanya. Aku seketika tersedak, jangan – jangan ia menaruh sesuatu di dalam roti sandwich ini pikirku. Selama sehari aku tidak makan. Semua masakan yang Nyonya Helga masak aku tolak, aku hanya ingin Catherine dan Anne yang memasak. Namun nyonya Helga bersikeras untuk selalu memasak masakan selama sehari penuh. Kutahan laparku, karena aku sangat curiga padanya.

Dikamar, aku sendiri sambil menahan lapar. Kemudian seseorang mengetuk pintu dan membuka pintu kamarku, aku terkejut bahwa yang datang adalah Nyonya Helga dengan membawa nampan berisi makanan. “Makanlah nona, kau pasti sangat lapar. Dari pulang sekolah samapi mala mini kau belum makan. Ayo, makanlah saya membuatkan Anda sup kacang hangat dengan beberapa potongan jamur di dalamnya. Ini pasti sangat enak. Sup ini adalah makanan favorit keluarga saya.” katanya. “tidak, saya sedang menjalani program diet.” Kataku menolaknya walaupun sebenarnya sup itu mempunyai aroma yang sangat enak. Nyonya Helga tersenyum kepadaku, ”kau masih anak – anak, tidak baik untuk pertumbuhanmu jika umur sepertimu melakukan diet. Ayo makanlah, jangan menolak lagipula sup ini rendah kalori.” Jawabnya mantap. Karena tak sanggup menahan lapar ditambah sakit perut, aku pun memakannya dengan lahap. Ini sangat enak. Tetapi untuk kedua kalinya aku melihatnya memperhatikanku dengan senyum misterius. Dan setelah semuanya habis, tiba – tiba kepalaku berputar – putar dan mataku menjadi gelap, gelap, dan terlihat Nyonya Helga tersenyum aneh kepadaku untuk ketiga kalinya.

Aku terbangun dan jarum jam menunjukan pukul 06.00 pagi, kepalaku masih pusing. Entah apa yang terjadi, aku hampir lupa dengan kejadian semalam. Kubuka pintu dan kudapati Joanna sedang bermain dengan Nyonya Helga. Ia menatapku dengan muka sinis, dan akupun tak menggurisnya. Aku hanya ingin ia keluar dari rumahku. Aku harus memberitahukan hal ini pada ayah. Namun sayangnya aku mendapat telegram dari ayah bahwa ayah akan pergi ke luar kota selama 2 bulan. Aku bingung, namun masih ada Charice yang selalu menemaniku saat aku sedang kesepian seperti ini. Tetapi kuputuskan untuk menundanya mengingat aku sudah terlambat ke sekolah.

Sore harinya terjadi suatu yang mengejutkan, adikku Liz lengannya patah dan harus dirawat di rumah sakit. Ketika aku bertanya apa yang menyebabkan tangannya patah, ia tak mau berbicara sama sekali. Ia membungkam mulutnya dengan rapat sambil ketakutan melihat nyonya Helga yang terlihat prihatin dengan kondisi lengannya itu. Aku mulai yakin bahwa dia yang membuat Liz menjadi patah lengannya. Aku ingin menceritakan kejadian itu pada Charice, namun nyonya Helga sepertinya sudah mengetahui tindakan yang lakukan sehingga ia selalu mengawasi aku dari kejauhan. Ini membuatku tidak nyaman. Matanya mengisyaratkan kelicikan dan kejahatan. Malam itu aku memutuskan untuk menginap menemani Liz di rumah sakit bersama Charice. Aku merasa aman tanpa ada nyonya Helga. Namun rasa khawatirku belum mereda, Johann dan Joanna masih dalam tangannya. Aku sangat berharap pada Catherine dan Anne untuk menjaga mereka berdua.

Di rumah sakit ia bertanya padaku, “Nona Lea, akhir – akhir ini kau terlihat berbeda. Apa yang menyebabkanmu seperti itu?” aku pun menceritakan semua yang terjadi semenjak kedatangan nyonya Helga. Ia pun tersenyum mendengar aku menceritakan itu, “Nona Lea, itu hanya perasaanmu saja. Ia sebenarnya sungguh baik dan professional. Saya pun ttertarik untuk belajar banyak hal tentang dia. Percayalah, itu hanya perasaanmu saja. Apakah Anda memberitahukan kejadian Liz kepada Ayahmu? Saya harap jangan dulu, ayahmu pasti langsung terkejut dan sedih mendengar itu. Itu tak baik untuknya” jelas Charice dengan nada lembut. “Saya yakin, Charice. Nyonya Helga itu jahat….” Namun sebelum aku selesai berbicara, ia mengajakku untuk tidur karena besok aku harus sekolah. Aku pun menurutinya.

Esoknya aku pulang bersama Charice dan terkejutnya aku melihat 3 buah mobil polisi sedang berpatroli di halaman rumahku. Aku melihat beberapa orang polisi mengangkat tandu berisi seorang jenazah yang telah ditutup dengan kain putih. Sejenak aku melihat reaksi Charice yang membeku tak dapat mengatakan apa – apa. Aku dan Charice akhirnya menanyakan hal itu pada seorang polisi. “Terjadi pembunuhan malam tadi di kediaman ini, namun pembunuhan ini sungguh tak wajar, semua korbannya meninggal dengan tubuh yang dicakar – cakar oleh sesuatu yang sangat tajam hingga korban kehabisan darah. Korban – korban itu adalah pembantu rumah tangga di rumah ini.” Jelas polsi itu. “siapa saja yang menjadi korban dalm pembunuhan ini?” tanya Charice. Sang polisi melihat surat keterangan dan, “Korban pertama adalah Thomas Henriett, korban kedua adalah Catherine McMercury dan yang terakhir adalah Anne McMercury. Untuk sementara belum ditemukan pelakunya. Namun dari kesaksian nyonya Helga Garrett satu – satunya pembantu rumah tangga yang tersisa bahwa ad seorang laki – laki yang berlari dengan terbirit – birit setelah kejadian itu.” Kata polisi itu. Aku dan Charice terkejut bukan kepalang. Aku langsung memastikan bahwa adik – adikku dalam keadaan selamat. Ternyata kutemukan mereka dengan tak bernyawa di tempat tidur. Pulas sekali. Aku langsung memanggil polisi bahwa adik – adikku pun meninggal. Aku lemas, berteriak sambil menangis di pelukan Charice yang begitu sakit melihat kejadian ini. Sungguh bodoh aku ini, aku tak dapat melindungi adik – adikku sendiri aku sungguh egois dengan meninggalkan mereka di tengah kandang singa. Aku sangat tertekan dan kuputuskan untuk menghubungi ayah agar ia pulang. Ayah akan pulang sore nanti katanya.

Namun aku tak melihat nyonya Helga di sana. Ia tidak kelihatan sejak aku tiba di rumah. Aku mencarinya kemana – mana tempat tetapi ia tak ada. Aku benar – benar optimis bahwa orang yang bertanggung jawab atas semuanya ini adalah nyonya Helga. Aku langsung menuju rumah sakit bersama Charice untuk memastikan bahwa Liz baik – baik saja. Aku cemas Nyonya Helga akan membunuh Liz juga. Ternyata dugaanku benar, Liz sudah terbujur kaku dengan muka yang biru lebam karena kurang oksigen. Aku benar – benar kalap. Aku begitu marah pada Helga. Ia merengut semua yang kumiliki dengan beberapa minggu saja. Namun sekali lagi, Helga tak ditemukan…

Sore hari Ayah pulang dengan wajah yang kusut dan sendu. Batinnya tertekan dengan semua yang telah terjadi. Ketiga anaknya dan ketiga pembantunya meninggal dengan cara yang tragis dan hingga kini pelaku belum ditemukan. Ia berjanji untuk selalu melindungiku karena aku adalah satu – satunya anak yang tersisa.

Pada saat makan malam, Helga datang dengan membawa makanan yang telah dimasaknya. “Halo, semuanya! Menu makanan malam ini adalah ayam panggang saus tar – tar.” katanya dengan riang. Raut wajahnya sangat gembira, kontras sekali dengan suasana yang sedang berduka. Aku sangat membencinya. Ya membencinya!

Malam harinya, sepasang tangan mencekik leherku

Kenali Tipe Belajarmu ?

Tipe belajar adalah cara belajar yang digunakan seseorang berdasarkan kepribadian individu. Setiap individu memiliki tipe belajar yang berdeda-beda. Nah, apakah kalian sudah tahu bagaimana cara belajar kalian? Yuk kita tes!!

1. Apabila guru sedang mengajar dan kamu sedang memperhatikan, lalu ada teman mu yang mengajak berbicara. Apa yang akan kamu lakukan?
a. Menaruh telunjuk di bibir sambil berucap “sssttt”
b. Menanggapinya berbicara dan tidak memperdulikan guru
c. Menasihatinya kalau saat itu guru sedang menjelaskan

2. Saat jam pelajaran, guru mu ada urusan yang mengharuskan untuk keluar kelas. Namun, guru tersebut memberikan tugas. Apa yang akan kamu lakukan ?
a. Mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh
b. Mengerjakan tugas sambil mencontek tugas miilik teman
c. Bermain dan ribut di kelas tanpa mengerjakan tugas

3. Guru mu memberikan PR untuk dikerjakan dirumah. Apa yang kamu lakukan?
a. Mengerjakan PR sendiri di rumah dengan sungguh-sungguh
b. Mengerjakan PR dengan teman lain sambil berdiskusi
c. Mengerjakan PR di sekolah dan mencontek PR milik teman

4. Apabila guru mu mengatakan bahwa akan ada ulangan untuk pertemuan selanjutnya. Apa yang akan kamu lakukan?
a. Belajar jauh-jauh hari, dan memahami materi dengan sungguh-sungguh
b. Belajar satu hari sebelum ulangan diadakan
c. Tidak belajar sama sekali

Skor :
1. a=2 b=1 c=3; 2. a=3 b=2 c=1; 3. a=3 b=2 c=1; 4. a=3 b=2 c=1.
Sekarang, hitung skormu! Kalau jumlahnya..........
5 – 7 = Tipe Belajar Lambat
Kamu termasuk kedalam orang yang memiliki tipe belajar lambat. Yaitu, dengan kepribadian yang agak buruk, maka cara belajar yang kamu lakukan harus lebih ekstra. Karena, untuk memahami suatu materi kamu mebutuhkan waktu yang cukup lama.

8 – 10 = Tipe Belajar Sedang
Kamu termasuk dalam tipe belajar yang agak lumayan. Kamu sebenarnya memiliki kemauan untuk belajar, namun adakala kamu juga malas untuk belajar. Nah, kamu hanya perlu memotivasi diri agar belajar dengan lebih sungguh-sungguh, agar materi pelajaran dapat kamu pahami dalam waktu yang cukup singkat.

11 – 13 = Tipe Belajar Cepat
Nah, kamu adalah orang yang memiliki cara belajar sangat baik. Kamu dapat memahami materi pelajaran dengan waktu yang sangat singkat dan mengingatnya dalam waktu yang cukup lama. Kamu hanya perlu meningkatkan frekuensi belajar mu, agar materi-materi yang ada dapat semakin kamu pahami.

Sabtu, 01 Juni 2013

Website SMANSA Telah Online

Pengumuman kepada seluruh masyarakat di mana pun berada. Website Resmi SMA Negeri 1 Sungailiat telah online. Anda dapat mengaksesnya melalui url: www.sman1slt.sch.id. Pengumuman ini bisa disebarluaskan. Terima kasih.